Suatu hari, seorang pengusaha di Hong Kong tanpa sengaja menjatuhkan sebuah logam senilai satu dolar ke dalam parit yang sempit dan dalam. Dengan gelisah, ia berusaha untuk mendapatkan kembali uang logamnya tersebut. Seorang tukang sapu jalan yang kebetulan lewat dan melihatnya, berusaha membantu.
Tak lama kemudian, uang logam itu berhasil ditemukan kembali. Sang pengusaha begitu gembira. Ia mengantongi satu dolar tersebut dan mengeluarkan selembar uang seratus dolar dari dompetnya, lalu diberikannya kepada tukang sapu jalan itu.
Sesaat tukang sapu jalan tertegun dan dengan penasaran ia bertanya:
“Mengapa Anda lebih rela memberikan seratus dolar daripada kehilangan satu dolar di dalam selokan?”
Sang pengusaha tersenyum dan menjawab:
“Bila uang satu dolar ini terjatuh ke dalam selokan maka saya akan kehilangan satu dolar ini untuk selamanya! Tapi bila saya memberi seratus dolar pada Anda, saya tahu bahwa seratus dolar saya masih berada di pasar peredaran uang, dan itu berarti saya bisa mendapatkan kembali uang saya. Mungkin dua kali, sepuluh kali, bahkan seratus kali lipat.”
Bila kita ingin memberi berkat kepada orang lain, berarti kita juga harus memulainya dari memberi. Ketika kita memberi, berarti kita memiliki kemampuan, kemauan, ketulusan, keikhlasan, dan rasa syukur.
[Sumber : Andri Wongso]
Kamis, 15 Maret 2012
Dua buah karung goni
Liu Gang adalah seorang terpidana kasus perampokan, dia sudah dipenjara selama satu tahun dan tidak ada seorang pun yang pernah datang menjenguknya.
Ketika menyaksikan narapidana lainnya dalam selang waktu tertentu selalu saja ada orang yang datang menjenguk dan menghantarkan segala macam makanan enak, mata Liu Gang menjadi gatal, maka dia lalu menulis surat kepada ibunya dan meminta mereka untuk datang, bukan demi makanan enak, hanya karena rindu pada mereka saja.
Namun setelah tiada terhingga lembar surat yang dikirimkannya bagaikan tenggelam di laut saja, Liu Gang akhirnya mengerti kalau ayah ibunya tidak menginginkannya lagi. Dalam kesedihan dan keputus-asaannya, dia kembali menulis selembar surat, di dalamnya dikatakan jika ayah ibunya masih belum datang juga, maka mereka akan kehilangan anaknya ini untuk selama-lamanya. Ini bukan lampiasan kekecewaan, tetapi dikarenakan beberapa orang terpidana hukuman berat sudah beberapa kali mengajaknya untuk melarikan diri dari penjara, hanya saja dia belum berani mengambil keputusan, namun sekarang pendeknya ayah dan ibu sudah tidak menginginkannya, tiada lagi yang menjadi ganjalan batin, jadi apa lagi yang harus dikhawatirkannya?
Cuaca hari ini sangat dingin. Bertepatan pada saat Liu Gang secara diam-diam sedang membicarakan rencana pelarian dengan beberapa orang narapidana, tiba-tiba ada orang berteriak: “Liu Gang, ada orang datang menjengukmu!” Siapa pula ini? Ketika masuk ke dalam ruang kunjungan, Liu Gang tertegun, itu adalah ibunya. Setahun tidak bertemu, ibunya sudah berubah sampai sulit dikenal lagi. Orang yang berusia tidak sampai 50 tahun, semua rambutnya sudah beruban, punggungnya juga bongkok seperti udang, badannya kurus kerempeng bagai tidak berbentuk manusia lagi, pakaiannya lusuh dan koyak sana sini, sepasang kakinya tidak beralas dan penuh dengan debu dan bercak darah, di sampingya diletakkan dua buah karung goni yang sudah koyak.
Kedua ibu dan anak ini saling berpandangan, sebelum Liu Gang sempat membuka mulut, air mata ibunya sudah mengalir turun, sambil menyeka air mata, ibunya berkata: “Xiao Gang, suratmu sudah ibu terima, jangan menyalahkan ayah dan ibu, tetapi ayah dan ibu benar-benar tidak bisa menyempatkan diri untuk datang, ayahmu .... dia jatuh sakit dan ibu harus merawatnya, lagipula perjalanan ke sini sangat jauh ....”
Pada saat ini, seorang pembina narapidana masuk dengan membawa semangkuk besar mi telur yang panas-panas dan berkata dengan antusias: “Ibu, makan dulu semangkuk ini, nanti baru lanjutkan perbincangannya.” Ibu Liu segera berdiri, tangannya terus menggosok tubuhnya keras-keras: “Tidak boleh, tidak boleh begitu.”
Pembina menyorongkan mangkuk ke tangan orang tua ini dan berkata sambil tersenyum: “Ibuku juga ada seusia anda, apakah kurang pantas jika ibu makan semangkuk mi dari anaknya?” Ibu Liu tidak menolak lagi, dia menundukkan kepala dan segera menyantap mi itu dengan lahap, seakan sudah beberapa hari tidak makan saja.
Setelah ibunya siap makan, Liu Gang melihat pada sepasang kaki yang bengkak dan penuh bercak darah dari kaki yang luka, tanpa tertahankan bertanya: “Ibu, apa yang terjadi dengan kakimu? Mana sepatu ibu?” Sebelum ibunya menjawab, pembina yang menjawab dengan nada suara dingin: “Ibumu datang dengan jalan kaki, sepatunya sudah tergesek koyak.”
Berjalan kaki? Dari rumah sampai ke sini ada 500 - 600 kilometer, juga ada satu ruas merupakan jalan gunung yang sangat panjang. Liu Gang perlahan-lahan berjongkok dan pelan-pelan mengelus sepasang kaki yang tidak berbentuk lagi itu: “Ibu, mengapa ibu tidak naik bus saja? Kenapa tidak membeli sepasang sepatu?”
Ibu menarik kakinya dan berkata seakan tidak ambil peduli:“Naik bus apa, lebih baik jalan kaki saja. Tahun ini terjadi wabah penyakit babi, beberapa ekor babi yang ada di rumah mati semua, udara juga sangat kering, panen tanaman di ladang tidak baik jadinya, ada lagi .... ayahmu sakit dan perlu pengobatan, itu menghabiskan sangat banyak uang .... jika kesehatan tubuh ayahmu cukup baik, kami sejak lama sudah datang menjengukmu, jadi jangan menyalahkan ayahmu.”
Pembina itu menyeka air matanya dan diam-diam ke luar dari ruangan. Liu Gang bertanya sambil menundukkan kepalanya: “Apakah tubuh ayah sudah sehat?” Liu Gang menunggu sangat lama, namun tiada jawaban, ketika menonggakkan kepala, dia melihat ibunya sedang menyeka air matanya, namun mulutnya mengatakan: “Mata ibu masuk pasir, kamu bertanya akan ayahmu? Oh, dia sudah mau sembuh .... Dia meminta ibu menyampaikan kepadamu agar jangan terlalu memikirkannya, kamu harus baik-baik membina diri agar nantinya menjadi orang baik-baik.”
Waktu kunjungan sudah habis. Pembina masuk kembali dengan kedua tangan memegang setumpukan uang dan berkata: “Ibu, ini adalah sedikit uang dari kami beberapa orang pembina penjara, anda jangan pulang lagi dengan berkaki telanjang, jika tidak, Liu Gang akan merasa sangat sedih.”
Sepasang tangan ibu Liu Gang terus terayun dan berkata: “Mana boleh begitu, anakku di sini sudah cukup merepotkan kalian, jika ibu mengambil uang kalian, bukankah akan memperpendek umur ibu nantinya?”
Pembina berkata dengan suara bergetar: “Sebagai anak, Li Gang tidak dapat membuat anda menikmati kehidupan ini, malah membuat orangtua khawatir dan mencemaskannya, membuat ibu berjalan dengan kaki telanjang sepanjang ratusan kilometer sampai ke sini, jika membiarkan ibu pulang dengan kaki telanjang, apakah anak anda ini masih tergolong manusia?”
Liu Gang tidak dapat menahan diri lagi, dengan suara parau memanggil: “Ibu!” Kemudian tidak dapat melanjutkan kata-kata lagi, saat ini di luar jendela juga terdengar banyak suara tangisan, itu merupakan suara para terpidana yang diundang oleh pembina untuk ikut menyaksikan.
Pada saat ini, ada seorang penjaga masuk ruangan dan pura-pura berkata dengan enteng: “Jangan menangis lagi, ibu datang melihat anak adalah peristiwa bahagia, semuanya harus senang, mari saya lihat makanan enak apa yang dibawa oleh ibu.” Sambil berkata dia mengambil karung dan menuangkannya ke lantai, ibu Liu Gang tidak sempat mencegah, semua isi sudah dikeluarkannya, seketika semua orang tertegun.
Isi karung pertama ternyata semuanya adalah roti dan sejenisnya, semuanya sudah pecah-pecah dan keras bagai batu, lagipula ukurannya besar kecil. Tidak usah dikatakan lagi, ini pasti hasil dari ibu Liu Gang mengemis sepanjang perjalanan ke sini. Ibu Liu Gang merasa malu sekali, sepasang tangannya memegang keras pada ujung bajunya dan bergumam: “Anakku, jangan salahkan ibu telah melakukan pekerjaan ini, sebab di rumah sama sekali tidak ada satu pun barang berharga lagi ...”
Liu Gang bagaikan tidak mendengar perkataan ibunya ini, dia terus memandang lurus pada benda yang dituangkan dari karung goni kedua, itu adalah sebuah guci abu tulang manusia. Liu Gang bertanya dengan termangu-mangu: “Ibu, ini apa?” Wajah ibu Liu Gang tampak kebingungan, dia mengulurkan tangan untuk memeluk guci tersebut: “Bukan apa-apa...” Liu Gang merebutnya bagaikan gila, dengan tubuh gemetar berkata: “Ibu, apa ini?”
Ibu Liu Gang terduduk tanpa bertenaga, kepala dengan rambut ubannya bergetar hebat. Sejenak kemudian, dia berkata dengan susah payah: “Itu adalah .... ayahmu! Demi mencari uang agar dapat datang menjengukmu, dia bekerja siang malam, akhirnya tubuhnya tidak tahan dan jatuh sakit. Sebelum wafat, dia mengatakan sangat sedih karena dalam masa hidupnya tidak dapat datang menjengukmu, maka dia meminta ibu agar sesudah mati dapat membawanya datang menjengukmu dan melihatmu untuk terakhir kalinya...”
Liu Gang berteriak dengan hati sangat sedih seakan hatinya terkoyak: “Ayah, saya akan merubah diri ...” Kemudian terdengar suara “buuuk”, Liu Gang sudah berlutut, kepalanya terus dianggukkan ke lantai. “Buuuuk, buuuk”, terlihat semua orang di luar ruangan ikut berlutut dengan suara tangisan memenuhi langit....
sumber: santo lim
Kamis, 23 Februari 2012
Belajar dari angin yang menerbangkan debu
Memperhatikan angin yang setiap hari kita rasakan, kita akan tiba pada pemahaman tentang cara kerjanya. Dia selalu bergerak dari tekanan tinggi menuju tekanan rendah, yang kadang akan dipengaruhi oleh faktor ketinggian tempat. Banyak faedah angin yang bisa kita rasakan dalam keseharian kita. Di samping bisa memberikan kesejukan pada saat kita kepanasan, angin adalah salah satu pembawa oksigen yang dibutuhkan oleh mahluk hidup termasuk kita manusia agar tetap hidup dan terus melakukan aktifitas kehidupan.
Salah satu yang bisa kita pelajari dari keberadaan angin itu adalah bagaimana dia seperti layaknya tukang sapu bekerja menerbangkan debu-debu yang ada disekitar kita. Hasilnya seperti yang dapat kita lihat dalam keseharian, tempat yang penuh debu itupun perlahan mulai kelihatan bersih. Sungguh suatu hal yang rumit jika kita pelajari dan uraikan, namun manusia akan selalu tertarik untuk mempelajari serta mengkaji sesuatu yang menurut mereka merupakan suatu fenomena atau gejala untuk bisa dimengerti demi kepentingan ilmu pengetahuan dan dirinya sendiri. Dan dengan keberadaan ilmu pasti-fisika manusia belajar bagaimana memahaminya.
Sepintas lalu kalau diamati, setitik debu mempunyai berat yang sangat ringan, namun tidak lebih berat dari angin. Tidak seperti oksigen yang memang mempunyai berat yang lebih kecil dari angin sehingga secara otomatis oksigen akan selalu terbawa ke mana saja angin bergerak. Itu berarti bahwa angin membutuhkan suatu energi untuk menerbangkan debu tersebut. Dari manakah datangnya energi itu? Menurut kajian ilmu fisika, energi bisa ditimbulkan oleh sebuah benda karena letaknya dan atau karena kecepatannya. Maka jelas sekali bahwa angin akan selalu mempunyai energi yang timbul karena geraknya. Seberapa besar energi yang ditimbulkan? Iu bergantung dari besar kecilnya kecepatan angin yang bergerak pada saat itu. Ada banyak faktor yang mempengaruhi, salah satunya adalah suhu dan tekanan yang terjadi pada saat itu. Semakin besar kecepatannya semakin besar pula energinya yang akan berpengaruh pada kekuatan yang ditimbulkan. Besarnya kekuatan angin tersebut bisa kita lihat pada dampak atau hasil kerjanya misalnya angin dalam bentuk besar - yang biasa kita sebut badai bisa menumbangkan pohon atau bahkan bisa membuat sebuah kapal terdampar. Dengan contoh dampak di atas, kita bisa mengukur berapa besarnya kekuatan angin yang terjadi tentunya dengan bantuan alat ukur bikinan manusia.
Setitik debu akan mudah untuk dibersihkan oleh kita, namun bila tidak ada lagi yang peduli, maka debu itu semakin lama akan semakin menumpuk dan tentunya akan memberikan pekerjaan rumah pada kita semua. Belajar pada angin bagaimana dia menerbangkan debu setiap harinya, manusiapun tanpa sadar membuat tatanan nilai dengan menjaga kebersihan rumahnya setiap hari. Setiap hari akan selalu ada debu yang datang ke tempat kita dan akan selalu ada yang pergi baik secara sengaja dibersihkan atau dengan bantuan angin. Tanpa kita sadari angin telah banyak membantu kita untuk membersihkan debu dalam keseharian kita. Tanpa pula kita sadari sudah berapa banyak debu yang sudah ia terbangkan, membantu membersihkan tempat kita dari kotoran yang ada dan yang akan ditimbulkan tanpa pernah mengeluh dan meminta imbalan pada kita semua. Begitu banyak rahmat di sekitar kita, sudahkah kita memperhatikannya?
Mari kita bersyukur selalu karena rahmat Tuhan senantiasa ada dalam hidup kita walau kita sendiri tak pernah menyadarinya. Terima kasih Tuhan!
Senin, 13 Februari 2012
Tempat peristirahatan bagi jiwa yang lelah
Sebab Aku akan membuat segar orang yang lelah, dan setiap orang yang merana akan Kubuat puas." (Yer 31:25)
Pernahkah saudara merasa lelah? tidak peduli apakah anda adalah orang yang cerdas, tidak peduli apakah anda adalah orang yang kaya, tidak peduli apapun pekerjaan saudara, apakah saudara adalah seorang pelajar, seorang karyawan, seorang pengusaha, atau bahkan seorang fulltimer gereja sekalipun, setiap orang pasti pernah merasa lelah. Nah, pernahkah saudara merasakan bahwa kadangkala jiwa saudara juga merasa lelah, menghadapi takanan, menghadapi masalah dalam hidup. Jika tubuh yang lelah membutuhkan tempat untuk beristirahat, bukankah jiwa juga demikian? Disaat jiwa saudara mulai lelah, maka saudara membutuhkan tempat untuk beristirahat.
Berapa banyak waktu yang seringkali anda habiskan hanya untuk merenungi nasib, memikirkan masalah-masalah yang terjadi dalam hidup anda? Dan apa yang anda rasakan ketika anda mulai memikirkannya, apakah dengan meratapi nasib maka masalah hidup saudara terselesaikan? bukankah jiwa anda semakin bertambah lelah? saudaraku, renungan kali ini mengingatkan kita bahwa sebenarnya kita ini membutuhkan Tuhan.
Yah, mungkin saudara akan menjawab “ya, saya butuh Tuhan, setiap saat saya butuh Tuhan” namun apakah saudara benar-benar menyadari bahwa saudara membutuhkan Tuhan?
Tuhan adalah tempat peristirahatan bagi jiwa kita yang lelah dan Tuhan yang menyegarkan jiwa kita. Tuhan yang membaringkan kita di padang yang berumput hijau. Datanglah pada-Nya, lihatlah wajah-Nya dan dengarkanlah suara-Nya. Baringkanlah diri anda di dekat-Nya. sungguh yang Dia kehendaki adalah hati anda yang rindu dekat dengan Dia, adakah masalah yang terlalu sulit untuk diselesaikan oleh Dia? Tuhan rindu saudara beristirahat di dalam-Nya, Tuhan rindu menyegarkan jiwa saudara.
Kamis, 26 Januari 2012
KEBENARAN ITU APA?
Tahukah kau siapa aku? Tahukah kau bagaimana hidupku? Tahukah kau mengapa aku melakukan hal-hal yang tak kau senangi? Tahukah kau apa sebabnya kebenaran yang kau yakini tak jadi kebenaran yang kuyakini? Tahukah kau, mengapa aku harus menempuh jalan yang tak kau senangi ini? Tahukah kau?
Ah, hidup ini tidak semudah dengan apa yang kau teorikan padaku. Nasehat-nasehatmu hanya bergaung untuk hidupmu sendiri, dan kadang itupun kuragukan kau lakukan. Hidup ini tidaklah sederhana, temanku. Hidup ini tak pernah sederhana. Apa yang kau anggap kepastian, hanya menjadi kepastian bagi dirimu sendiri, bagi lingkunganmu, yang takkan pernah sama dan tak mungkin sama persis dengan hidup dan lingkunganku. Jadi, mengapa harus kau paksakan kebenaran yang kau anggap benar bagi dirimu kepadaku?
Sesungguhnya, apa yang indah bagi dunia ini adalah karena perbedaan-perbedaan yang kita miliki. Ya, karena perbedaan, dan bukan karena kesamaan dan keseragaman yang akan membosankan. Perbedaan-perbedaan itulah yang membuat hidup ini layak untuk dijalani. Perbedaan itulah yang diciptakan Tuhan sebagai tantangan bagi kita untuk mencari jalan kebenaranNya. Tuhan memberi kita kehidupan ini sebagai suatu anugerah, agar kita dapat menjalaninya dalam proses untuk mencari dan menemukan kebenaranNya, dengan individu-individu yang masing-masing memiliki keunikannya sendiri. Dan tidak pernahkan kau merasa takjub melihat betapa berbedanya kita. Dalam rupa, dalam warna kulit, dalam adat dan tatacara menjalani hidup ini.
Perbedaan sesungguhnya adalah karunia terbesar bagi umat manusia. Perbedaan membuat kita dapat menyadari keberadaan kita. Menyadari kegunaan kita. Perbedaan membuat kita punya arti. Bayangkanlah jika kita semua hidup dalam keseragaman, akan jadi apakah dunia ini? Bayangkanlah jika kita semua sama, dimanakah diri kita sendiri? Ya, dimanakah kita? Jika kau adalah aku, dan aku adalah kau, maka siapakah kita ini? Lalu, apa gunanya Tuhan menciptakan kita berbeda jika kita kemudian mewajibkan segalanya harus sama?
Membayangkan sebuah dunia yang serupa, steril dan tanpa cacat sama sekali, membuatku tiba-tiba menjadi takut untuk hidup di dalam dan bersama dunia semacam itu. Takut salah. Takut merasa salah. Takut merasa ada. Takut merasa lain. Takut tak takut. Takut.
Tapi ah, tahukah kau siapa aku? Jika terkadang aku sering merasa gamang dengan diriku sendiri, jika terkadang aku merasa tak mengenal diriku sendiri, bagaimana mungkin kau merasa pasti dan wajib untuk tahu dan mengenal aku? Jika kau sendiri merasa yakin dan wajib untuk harus mengubah orang lain, apakah kau tahu dan yakin bisa merubah dirimu sendiri? Jika tidak, pantaskah kau mewajibkan aku mengubah hidupku menjadi seperti dirimu? Ah, dunia, aku hanya bisa tersenyum tapi juga merasa sedih dengan kelakuan-kelakuan seperti itu. Dan aku yakin, menyeragamkan manusia tak mungkin akan berhasil secara tetap. Takkan mungkin.
A. Tonny Sutedja
Ah, hidup ini tidak semudah dengan apa yang kau teorikan padaku. Nasehat-nasehatmu hanya bergaung untuk hidupmu sendiri, dan kadang itupun kuragukan kau lakukan. Hidup ini tidaklah sederhana, temanku. Hidup ini tak pernah sederhana. Apa yang kau anggap kepastian, hanya menjadi kepastian bagi dirimu sendiri, bagi lingkunganmu, yang takkan pernah sama dan tak mungkin sama persis dengan hidup dan lingkunganku. Jadi, mengapa harus kau paksakan kebenaran yang kau anggap benar bagi dirimu kepadaku?
Sesungguhnya, apa yang indah bagi dunia ini adalah karena perbedaan-perbedaan yang kita miliki. Ya, karena perbedaan, dan bukan karena kesamaan dan keseragaman yang akan membosankan. Perbedaan-perbedaan itulah yang membuat hidup ini layak untuk dijalani. Perbedaan itulah yang diciptakan Tuhan sebagai tantangan bagi kita untuk mencari jalan kebenaranNya. Tuhan memberi kita kehidupan ini sebagai suatu anugerah, agar kita dapat menjalaninya dalam proses untuk mencari dan menemukan kebenaranNya, dengan individu-individu yang masing-masing memiliki keunikannya sendiri. Dan tidak pernahkan kau merasa takjub melihat betapa berbedanya kita. Dalam rupa, dalam warna kulit, dalam adat dan tatacara menjalani hidup ini.
Perbedaan sesungguhnya adalah karunia terbesar bagi umat manusia. Perbedaan membuat kita dapat menyadari keberadaan kita. Menyadari kegunaan kita. Perbedaan membuat kita punya arti. Bayangkanlah jika kita semua hidup dalam keseragaman, akan jadi apakah dunia ini? Bayangkanlah jika kita semua sama, dimanakah diri kita sendiri? Ya, dimanakah kita? Jika kau adalah aku, dan aku adalah kau, maka siapakah kita ini? Lalu, apa gunanya Tuhan menciptakan kita berbeda jika kita kemudian mewajibkan segalanya harus sama?
Membayangkan sebuah dunia yang serupa, steril dan tanpa cacat sama sekali, membuatku tiba-tiba menjadi takut untuk hidup di dalam dan bersama dunia semacam itu. Takut salah. Takut merasa salah. Takut merasa ada. Takut merasa lain. Takut tak takut. Takut.
Tapi ah, tahukah kau siapa aku? Jika terkadang aku sering merasa gamang dengan diriku sendiri, jika terkadang aku merasa tak mengenal diriku sendiri, bagaimana mungkin kau merasa pasti dan wajib untuk tahu dan mengenal aku? Jika kau sendiri merasa yakin dan wajib untuk harus mengubah orang lain, apakah kau tahu dan yakin bisa merubah dirimu sendiri? Jika tidak, pantaskah kau mewajibkan aku mengubah hidupku menjadi seperti dirimu? Ah, dunia, aku hanya bisa tersenyum tapi juga merasa sedih dengan kelakuan-kelakuan seperti itu. Dan aku yakin, menyeragamkan manusia tak mungkin akan berhasil secara tetap. Takkan mungkin.
A. Tonny Sutedja
Langganan:
Postingan (Atom)
