Inilah Kisah Seseorang yang ditolak Bekerja di Microsoft


Seorang laki-laki pengangguran melamar posisi sebagai 'office boy' di Microsoft.
Manajer SDM mewawancarainya, kemudian melihatnya untuk membersihkan lantai sebagai ujian.

'Anda bekerja "katanya.
"Berikan alamat e-mail Anda dan saya akan mengirimkan aplikasi untuk diisi, juga tanggal ketika Anda dapat mulai bekerja."
Pria itu menjawab, "Tapi saya tidak punya komputer, bahkan email '.
"Maafkan aku", kata manajer HR. Jika Anda tidak memiliki email, itu berarti Anda tidak ada. Dan siapa yang tidak ada, tidak dapat memiliki pekerjaan. "

Orang itu tanpa harapan sama sekali. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, dengan hanya memiliki uang $ 10 di saku. Ia kemudian memutuskan untuk pergi ke supermarket dan membeli 10kg peti tomat. Dia kemudian menjual secara keliling tomat itu dari rumah ke rumah. Dalam waktu kurang dari dua jam, dia berhasil melipatgandakan modalnya.

Dia mengulangi penjualannya secara keliling tiga kali, dan pulang dengan uang $ 60.
Lelaki itu menyadari bahwa ia bisa bertahan hidup dengan berjualan tomat, dan dia mulai untuk pergi berjualan tomat sehari-hari dan sering pulang larut malam mendagangkan jualannya hari demi hari uang keuntungan yg didapat dua kali lipat atau tiga kali lipat dalam penjualannya sehari-hari. Tak lama, ia membeli mobil, lalu truk, dan kemudian ia mempunyai armada kendaraan pengiriman sendiri.

5 tahun kemudian, orang itu menjadi salah satu pengusaha food retailer terbesar di Amerika Serikat.
Ia mulai merencanakan masa depan keluarganya, dan memutuskan untuk memiliki asuransi jiwa.
Dia memanggil broker asuransi, dan memilih rencana perlindungan.
Ketika percakapan broker bertanya tentang email yang akan dipakai untuk keperluan asuransi.

Pria itu menjawab, "Aku tidak punya email."

broker itu menjawab ingin tahu mengapa ia tidak punya email,

'Anda tidak memiliki email, namun telah berhasil membangun sebuah imperium perusahaan bisnis. Dapatkah Anda membayangkan apa yang bisa terjadi jika Anda memiliki email!!? "

Pria itu berpikir sejenak dan menjawab, "Ya, aku akan menjadi seorang office boy di Microsoft!!"

NB: Segala sesuatu kekurangan kita, itu akan menjadi suatu kelebihan kita..
bisa kita ambil kesimpulan dari kisah cerita diatas...
Seorang pria yang tidak memiliki komputer dan tidak tahu bagaimana menggunakan e-mail...
tetapi Tuhan memberikan ia jalan yang lain...
sehingga ia dapat sukses...

Jadi, jangan lah kita merasa sedih jika kita tidak dapat melakukan suatu hal...
karena setiap orang memiliki kemampuan dan talenta yang berbeda-beda...
dan Tuhan yang mengatur segala sesuatu yang terbaik untuk kita...
jadi Keep Spirit...!!! Fire...!!!

Cerita nyata kuli dan Sarjana berpendidikan


Tentang judul di atas tentu saja ada beberapa rekan – rekan yang bertanya apa artinya???
Namun saya juga punya jawaban yang begitu menarik dan dapat anda simpulkan sendirimanakah yang lebih penting sebuah ijazah ataukah sebuah proses mandiri yang alamiberdasarkan pengalaman???
Berikut ceritanya :
“Indonesia terkenal sebagai negara berkembang dimana hampir di seluruh bagian dari bumi persada ini dilakukan MEGA PROYEK pembangunan dan cerita ini berawal di sebuah kota metropolitan terbesar kedua di indonesia setelah Jakarta atau SURABAYA tepatnya. Di jantung kota pula yakni Jl. A. Yani  ada pembangunan pasar rakyat dimana ada 32 Kuli, 18 Tukang di tambahkan dengan 7 Mandor dan 1 Directure pembangunan adalah pekerja yang notabene menjadi penanggung jawab proyek pasar tersebut. Pembangunan di mulai dari hari pertama hingga 7 Bulan target pembangunan di haruskan selesai. Bulan Januari tepat tanggal 1dimulai sudah pembagunan di tandai dengan peletakan batu pertama oleh Gubernur JATIMyang di lanjutkan langsung lembur hampir 24 Jam oleh kuli dan tukang – tukang yang adaMandor hanya mengawasi selama 12 Jam dan Directure pembangunan hanya seminggu datang sekali itupun +- 6 Jam tidak lebih dan Pulang lalu akand atang pada minggu selanjutnya……..
Bulan pertama berlalu dan waktu gajian tiba dalam 1 bulan Kuli yang bekerja selama 24 Jam mendapatkan gaji 3.450.000 si Tukang 4.350.000 , lalu si mandor 5.000.000 dan si Directure mendapatkan gaji 6.250.000 (Semua gaji sudah di tambakan uang makan, upah lembur dan lain  lain)
Oke bulan pertama bulan ke2 hingga bulan ke lima oke namun muncul permasalahan yang muncul dari obrolan salah satu kuli ketika istirahat malam dan memulailah antara kuli satu dan yang lain bicara. Sebut saja Iwan, Hanafi dan Eko .. Ko kamu selama ini sadar gak masak kita yang bekerja 24 jam gajinya cuman 3.450.000 sedangkan sang directure pembangunan neliti bangunan kita ngomong ke mandor lanjutkan atau tambahkan gajinya bisa 2X Lipatnya kita??? kan gak masuk akal banget????
Em bener banget ya han… aku kadang juga mikir sama kita yang berjuang mati-matian kok dy yang enak-enakan… Gimana menurutmu wan???
Kalo saranku kita mogok kerja ja yuk sampai gaji kita naik…Gimana???
Karena sama- sama perantauan jauh jadi solidaritas para kuli begitu tinggi hingga mereka mogok kerja dan minta penukaran gaji.. hal tersebut di sampaikan pada mandor hingga akhirnya sampai juga ke telinga si directure.. Pekerjaan terpaksa di hentikan karena tukangpun tak mungkin menyelesaikan pekerjaan tanpa bantuan sang kuli – kuli tadi Fikir si Tukang ||Wah bakal kena pecat semua neh||??? Namun apakah hal ini yang di lakukan oleh sang directure???
Tentu itu yang akan dilakukan bila sang directure adalah orang yang arogansi akan sebuahkekuasaan…
Namun Tidak karena kebijakannya dan hati nurani yang memang patut di banggakan sang directure datang tepat hari ke-2 lalu bertanya pada salah satu dari ke-35 kuli tersebut.. Oh ya kenapa kalian mogok kerja bukankah sudah mendapat gaji yang besar??? Tanyanya
Jawab kuli Pertama : Tidak pak kami tidak mau melanjutkannya???
Directure : Bukankah ini demi hajat hidup orang banyak??
hanafi menanggapi : Pak coba bayangkan perbedaan gaji antara kami dan bapak ?? Okelah bila kami dengan yang lainnya namun bila dengan anda ???
kami 24 Jam lembur mati-matian istirahat pun hanya sebentar gaji 3 Juta bapak yang hanya datang sekali 2X Lipat dari kami???
Timpal Iwan : Kami minta kenaikan gaji pak atau tukar saja nominal gaji kami dengan bapak!!!
Directure tersenyum lalu membuat sebuah penawaran.. Em..boleh bagus dan OEK Tapi Ini saya ada sebuah aturan dimana untuk mendapatkan gaji saya mari kita berkompetisi sesuai dengan syarat saya .. cukup mudah kok
Lalu sang directure mengajukan syaratnya..Saya ingin kalian bisa membuat telur ayam berdiri hanya itu…
Sang kuli berfikir 20x namun karena hanya itu solusi alternatif agar mereka mendapatkan apa yang mereka mau mereka pun sepakat namun bertanya ::berapa tenggat waktu yang anda berikan pada kami pak???::
saya akan beri waktu 3Hari…kita akan bertemu pada hari ketiga dan ini juga libur sementara bagi kalian namun bila ternyata saya yang mampu dan kalian tidak maka kalian harus menuruti saya untuk tetap berada di sini sesuai dengan gaji yang di berikan selama ini sampai tenggat waktu selesai??? Bagaimana??? OKE bos jwab mereka serempak
Detik berlalu menit dentang jam bahkan 48 Jam telah berlalu dan esok adalah waktunya untuk beraksi unjuk gigi namun antara satu kuli dengan yang lainnya tidak menemukan sama sekali sebuah titik temu. . . bahkan ada yang sampa pergi ke dukun sakti untuk belajar kanuragan mendirikannya ada yang ke Limbad namun tiadak ada solusi sama sekali yang di berikan .. Ada yang pergi ke gunung lawu dan ada yang bersemedi ke KELUD namun itu semua tetap nihil
Tiba pada waktunya hari yang telah di tentukan hingga sang directure pun datang kembali ke mega proyek tersebut…
Bagaimana jawabnya.. Lalu para kuli muncul satu demi satu untuk unjuk gigi dengan berbagai macam doa dan kesaktian yang mereka pelajari walaupun dalam waktu yang amat minim itu namun nihil
Berarti bagian saya ya sekarang???
Tanpa membuang waktu sang directure mengambil sekop semen dan telur tersebut dymembuat adonan lalu menaru telur tersebut di atas adonan semen tersebut sampai telur berdiri.. Para kuli terbelalak mau menganggap ini sebuah tipu muslihat namun mereka juga menyadari bahwa dalam ucapan sang directure tempo hari tidak menyebutkan di larang memakai bantuan apapun
Sang directure berkata : Ini beda antara saya dan kalian saya menggunakan pola pikir untuk mengembangkan kemampuan dan peluang seiring tingkat jenjang pendidikan saya saya S2 Arsitekture dan Desain bangunan namun kalian semua adalah lulusan SMP dan SMP dari CV yang perusahaan pegang .. Bukan saya menyalahkan atau mengerdilkan namun pahami bahwa yang kalian dapatkan lebih dari cukup di sini dan proyek ini tidak akan berjalan .
Bagaimana??
Para kuli terdiam sejenak hingga akhirnya mereka pun menyalami pak directure dan berjanji akan menjalankan kerja dan amanah mereka dengan pebuh tanggung jawab
Singkat cerita proyek pun berhasil selesai tepat waktu hingga menimbulkan decak kagum dan ucapan selamat pada seluruh karyawan proyek tersebut”
terima kasih

Satu Dollar lebih berharga daripada Seratus Dollar

Suatu hari, seorang pengusaha di Hong Kong tanpa sengaja menjatuhkan sebuah logam senilai satu dolar ke dalam parit yang sempit dan dalam. Dengan gelisah, ia berusaha untuk mendapatkan kembali uang logamnya tersebut. Seorang tukang sapu jalan yang kebetulan lewat dan melihatnya, berusaha membantu.

Tak lama kemudian, uang logam itu berhasil ditemukan kembali. Sang pengusaha begitu gembira. Ia mengantongi satu dolar tersebut dan mengeluarkan selembar uang seratus dolar dari dompetnya, lalu diberikannya kepada tukang sapu jalan itu.

Sesaat tukang sapu jalan tertegun dan dengan penasaran ia bertanya:
“Mengapa Anda lebih rela memberikan seratus dolar daripada kehilangan satu dolar di dalam selokan?”

Sang pengusaha tersenyum dan menjawab:
“Bila uang satu dolar ini terjatuh ke dalam selokan maka saya akan kehilangan satu dolar ini untuk selamanya! Tapi bila saya memberi seratus dolar pada Anda, saya tahu bahwa seratus dolar saya masih berada di pasar peredaran uang, dan itu berarti saya bisa mendapatkan kembali uang saya. Mungkin dua kali, sepuluh kali, bahkan seratus kali lipat.”

Bila kita ingin memberi berkat kepada orang lain, berarti kita juga harus memulainya dari memberi. Ketika kita memberi, berarti kita memiliki kemampuan, kemauan, ketulusan, keikhlasan, dan rasa syukur.

[Sumber : Andri Wongso] 

Dua buah karung goni


Liu Gang adalah seorang terpidana kasus perampokan, dia sudah dipenjara selama satu tahun dan tidak ada seorang pun yang pernah datang menjenguknya.

Ketika menyaksikan narapidana lainnya dalam selang waktu tertentu selalu saja ada orang yang datang menjenguk dan menghantarkan segala macam makanan enak, mata Liu Gang menjadi gatal, maka dia lalu menulis surat kepada ibunya dan meminta mereka untuk datang, bukan demi makanan enak, hanya karena rindu pada mereka saja.

Namun setelah tiada terhingga lembar surat yang dikirimkannya bagaikan tenggelam di laut saja, Liu Gang akhirnya mengerti kalau ayah ibunya tidak menginginkannya lagi. Dalam kesedihan dan keputus-asaannya, dia kembali menulis selembar surat, di dalamnya dikatakan jika ayah ibunya masih belum datang juga, maka mereka akan kehilangan anaknya ini untuk selama-lamanya. Ini bukan lampiasan kekecewaan, tetapi dikarenakan beberapa orang terpidana hukuman berat sudah beberapa kali mengajaknya untuk melarikan diri dari penjara, hanya saja dia belum berani mengambil keputusan, namun sekarang pendeknya ayah dan ibu sudah tidak menginginkannya, tiada lagi yang menjadi ganjalan batin, jadi apa lagi yang harus dikhawatirkannya?

Cuaca hari ini sangat dingin. Bertepatan pada saat Liu Gang secara diam-diam sedang membicarakan rencana pelarian dengan beberapa orang narapidana, tiba-tiba ada orang berteriak: “Liu Gang, ada orang datang menjengukmu!” Siapa pula ini? Ketika masuk ke dalam ruang kunjungan, Liu Gang tertegun, itu adalah ibunya. Setahun tidak bertemu, ibunya sudah berubah sampai sulit dikenal lagi. Orang yang berusia tidak sampai 50 tahun, semua rambutnya sudah beruban, punggungnya juga bongkok seperti udang, badannya kurus kerempeng bagai tidak berbentuk manusia lagi, pakaiannya lusuh dan koyak sana sini, sepasang kakinya tidak beralas dan penuh dengan debu dan bercak darah, di sampingya diletakkan dua buah karung goni yang sudah koyak.

Kedua ibu dan anak ini saling berpandangan, sebelum Liu Gang sempat membuka mulut, air mata ibunya sudah mengalir turun, sambil menyeka air mata, ibunya berkata: “Xiao Gang, suratmu sudah ibu terima, jangan menyalahkan ayah dan ibu, tetapi ayah dan ibu benar-benar tidak bisa menyempatkan diri untuk datang, ayahmu .... dia jatuh sakit dan ibu harus merawatnya, lagipula perjalanan ke sini sangat jauh ....”

Pada saat ini, seorang pembina narapidana masuk dengan membawa semangkuk besar mi telur yang panas-panas dan berkata dengan antusias: “Ibu, makan dulu semangkuk ini, nanti baru lanjutkan perbincangannya.” Ibu Liu segera berdiri, tangannya terus menggosok tubuhnya keras-keras: “Tidak boleh, tidak boleh begitu.”

Pembina menyorongkan mangkuk ke tangan orang tua ini dan berkata sambil tersenyum: “Ibuku juga ada seusia anda, apakah kurang pantas jika ibu makan semangkuk mi dari anaknya?” Ibu Liu tidak menolak lagi, dia menundukkan kepala dan segera menyantap mi itu dengan lahap, seakan sudah beberapa hari tidak makan saja.

Setelah ibunya siap makan, Liu Gang melihat pada sepasang kaki yang bengkak dan penuh bercak darah dari kaki yang luka, tanpa tertahankan bertanya: “Ibu, apa yang terjadi dengan kakimu? Mana sepatu ibu?” Sebelum ibunya menjawab, pembina yang menjawab dengan nada suara dingin: “Ibumu datang dengan jalan kaki, sepatunya sudah tergesek koyak.”

Berjalan kaki? Dari rumah sampai ke sini ada 500 - 600 kilometer, juga ada satu ruas merupakan jalan gunung yang sangat panjang. Liu Gang perlahan-lahan berjongkok dan pelan-pelan mengelus sepasang kaki yang tidak berbentuk lagi itu: “Ibu, mengapa ibu tidak naik bus saja? Kenapa tidak membeli sepasang sepatu?”

Ibu menarik kakinya dan berkata seakan tidak ambil peduli:“Naik bus apa, lebih baik jalan kaki saja. Tahun ini terjadi wabah penyakit babi, beberapa ekor babi yang ada di rumah mati semua, udara juga sangat kering, panen tanaman di ladang tidak baik jadinya, ada lagi .... ayahmu sakit dan perlu pengobatan, itu menghabiskan sangat banyak uang .... jika kesehatan tubuh ayahmu cukup baik, kami sejak lama sudah datang menjengukmu, jadi jangan menyalahkan ayahmu.”

Pembina itu menyeka air matanya dan diam-diam ke luar dari ruangan. Liu Gang bertanya sambil menundukkan kepalanya: “Apakah tubuh ayah sudah sehat?” Liu Gang menunggu sangat lama, namun tiada jawaban, ketika menonggakkan kepala, dia melihat ibunya sedang menyeka air matanya, namun mulutnya mengatakan: “Mata ibu masuk pasir, kamu bertanya akan ayahmu? Oh, dia sudah mau sembuh .... Dia meminta ibu menyampaikan kepadamu agar jangan terlalu memikirkannya, kamu harus baik-baik membina diri agar nantinya menjadi orang baik-baik.”

Waktu kunjungan sudah habis. Pembina masuk kembali dengan kedua tangan memegang setumpukan uang dan berkata: “Ibu, ini adalah sedikit uang dari kami beberapa orang pembina penjara, anda jangan pulang lagi dengan berkaki telanjang, jika tidak, Liu Gang akan merasa sangat sedih.”

Sepasang tangan ibu Liu Gang terus terayun dan berkata: “Mana boleh begitu, anakku di sini sudah cukup merepotkan kalian, jika ibu mengambil uang kalian, bukankah akan memperpendek umur ibu nantinya?”

Pembina berkata dengan suara bergetar: “Sebagai anak, Li Gang tidak dapat membuat anda menikmati kehidupan ini, malah membuat orangtua khawatir dan mencemaskannya, membuat ibu berjalan dengan kaki telanjang sepanjang ratusan kilometer sampai ke sini, jika membiarkan ibu pulang dengan kaki telanjang, apakah anak anda ini masih tergolong manusia?”

Liu Gang tidak dapat menahan diri lagi, dengan suara parau memanggil: “Ibu!” Kemudian tidak dapat melanjutkan kata-kata lagi, saat ini di luar jendela juga terdengar banyak suara tangisan, itu merupakan suara para terpidana yang diundang oleh pembina untuk ikut menyaksikan.

Pada saat ini, ada seorang penjaga masuk ruangan dan pura-pura berkata dengan enteng: “Jangan menangis lagi, ibu datang melihat anak adalah peristiwa bahagia, semuanya harus senang, mari saya lihat makanan enak apa yang dibawa oleh ibu.” Sambil berkata dia mengambil karung dan menuangkannya ke lantai, ibu Liu Gang tidak sempat mencegah, semua isi sudah dikeluarkannya, seketika semua orang tertegun.

Isi karung pertama ternyata semuanya adalah roti dan sejenisnya, semuanya sudah pecah-pecah dan keras bagai batu, lagipula ukurannya besar kecil. Tidak usah dikatakan lagi, ini pasti hasil dari ibu Liu Gang mengemis sepanjang perjalanan ke sini. Ibu Liu Gang merasa malu sekali, sepasang tangannya memegang keras pada ujung bajunya dan bergumam: “Anakku, jangan salahkan ibu telah melakukan pekerjaan ini, sebab di rumah sama sekali tidak ada satu pun barang berharga lagi ...”

Liu Gang bagaikan tidak mendengar perkataan ibunya ini, dia terus memandang lurus pada benda yang dituangkan dari karung goni kedua, itu adalah sebuah guci abu tulang manusia. Liu Gang bertanya dengan termangu-mangu: “Ibu, ini apa?” Wajah ibu Liu Gang tampak kebingungan, dia mengulurkan tangan untuk memeluk guci tersebut: “Bukan apa-apa...” Liu Gang merebutnya bagaikan gila, dengan tubuh gemetar berkata: “Ibu, apa ini?”

Ibu Liu Gang terduduk tanpa bertenaga, kepala dengan rambut ubannya bergetar hebat. Sejenak kemudian, dia berkata dengan susah payah: “Itu adalah .... ayahmu! Demi mencari uang agar dapat datang menjengukmu, dia bekerja siang malam, akhirnya tubuhnya tidak tahan dan jatuh sakit. Sebelum wafat, dia mengatakan sangat sedih karena dalam masa hidupnya tidak dapat datang menjengukmu, maka dia meminta ibu agar sesudah mati dapat membawanya datang menjengukmu dan melihatmu untuk terakhir kalinya...”

Liu Gang berteriak dengan hati sangat sedih seakan hatinya terkoyak: “Ayah, saya akan merubah diri ...” Kemudian terdengar suara “buuuk”, Liu Gang sudah berlutut, kepalanya terus dianggukkan ke lantai. “Buuuuk, buuuk”, terlihat semua orang di luar ruangan ikut berlutut dengan suara tangisan memenuhi langit....

sumber: santo lim 

Belajar dari angin yang menerbangkan debu


Memperhatikan angin yang setiap hari kita rasakan, kita akan tiba pada pemahaman tentang cara kerjanya. Dia selalu bergerak dari tekanan tinggi menuju tekanan rendah, yang kadang akan dipengaruhi oleh faktor ketinggian tempat. Banyak faedah angin yang bisa kita rasakan dalam keseharian kita. Di samping bisa memberikan kesejukan pada saat kita kepanasan, angin adalah salah satu pembawa oksigen yang dibutuhkan oleh mahluk hidup termasuk kita manusia agar tetap hidup dan terus melakukan aktifitas kehidupan. 


Salah satu yang bisa kita pelajari dari keberadaan angin itu adalah bagaimana dia seperti layaknya tukang sapu bekerja menerbangkan debu-debu yang ada disekitar kita. Hasilnya seperti yang dapat kita lihat dalam keseharian, tempat yang penuh debu itupun perlahan mulai kelihatan bersih. Sungguh suatu hal yang rumit jika kita pelajari dan uraikan, namun manusia akan selalu tertarik untuk mempelajari serta mengkaji sesuatu yang menurut mereka merupakan suatu fenomena atau gejala untuk bisa dimengerti demi kepentingan ilmu pengetahuan dan dirinya sendiri. Dan dengan keberadaan ilmu pasti-fisika manusia belajar bagaimana memahaminya. 



Sepintas lalu kalau diamati, setitik debu mempunyai berat yang sangat ringan, namun tidak lebih berat dari angin. Tidak seperti oksigen yang memang mempunyai berat yang lebih kecil dari angin sehingga secara otomatis oksigen akan selalu terbawa ke mana saja angin bergerak. Itu berarti bahwa angin membutuhkan suatu energi untuk menerbangkan debu tersebut. Dari manakah datangnya energi itu? Menurut kajian ilmu fisika, energi bisa ditimbulkan oleh sebuah benda karena letaknya dan atau karena kecepatannya. Maka jelas sekali bahwa angin akan selalu mempunyai energi yang timbul karena geraknya. Seberapa besar energi yang ditimbulkan? Iu bergantung dari besar kecilnya kecepatan angin yang bergerak pada saat itu. Ada banyak faktor yang mempengaruhi, salah satunya adalah suhu dan tekanan yang terjadi pada saat itu. Semakin besar kecepatannya semakin besar pula energinya yang akan berpengaruh pada kekuatan yang ditimbulkan. Besarnya kekuatan angin tersebut bisa kita lihat pada dampak atau hasil kerjanya misalnya angin dalam bentuk besar - yang biasa kita sebut badai bisa menumbangkan pohon atau bahkan bisa membuat sebuah kapal terdampar. Dengan contoh dampak di atas, kita bisa mengukur berapa besarnya kekuatan angin yang terjadi tentunya dengan bantuan alat ukur bikinan manusia. 



Setitik debu akan mudah untuk dibersihkan oleh kita, namun bila tidak ada lagi yang peduli, maka debu itu semakin lama akan semakin menumpuk dan tentunya akan memberikan pekerjaan rumah pada kita semua. Belajar pada angin bagaimana dia menerbangkan debu setiap harinya, manusiapun tanpa sadar membuat tatanan nilai dengan menjaga kebersihan rumahnya setiap hari. Setiap hari akan selalu ada debu yang datang ke tempat kita dan akan selalu ada yang pergi baik secara sengaja dibersihkan atau dengan bantuan angin. Tanpa kita sadari angin telah banyak membantu kita untuk membersihkan debu dalam keseharian kita. Tanpa pula kita sadari sudah berapa banyak debu yang sudah ia terbangkan, membantu membersihkan tempat kita dari kotoran yang ada dan yang akan ditimbulkan tanpa pernah mengeluh dan meminta imbalan pada kita semua. Begitu banyak rahmat di sekitar kita, sudahkah kita memperhatikannya? 



Mari kita bersyukur selalu karena rahmat Tuhan senantiasa ada dalam hidup kita walau kita sendiri tak pernah menyadarinya. Terima kasih Tuhan!

Back to Home Back to Top Motivation. Theme ligneous by pure-essence.net. Bloggerized by Chica Blogger.